Responsive Ads
Home Gaya Hidup kesehatan

Sering Buang Air Kecil di Malam Hari? Pahami Penyebab dan Cara Mengatasinya


Sering terbangun di tengah malam hanya untuk ke toilet? Selain dapat mengganggu kualitas tidur seseorang, kondisi ini juga bisa menjadi tanda dari adanya masalah kesehatan yang perlu kamu perhatikan. Gangguan buang air kecil di malam hari, yang dikenal dengan istilah medis nokturia atau nocturnal polyuria, adalah kondisi yang umumnya dialami oleh mereka yang sudah berusia lanjut atau mereka yang menderita penyakit tertentu.

Pada dasarnya, tubuh dirancang untuk dapat tidur selama enam hingga delapan jam tanpa harus terbangun untuk buang air kecil. Hal ini terjadi karena produksi urine akan menurun secara signifikan selama periode istirahat malam. Namun, ketika kamu mengalami nokturia, ritme alami tubuh ikut terganggu dan membuat kamu harus bangun berkali-kali di malam hari, sehingga tidur kamu menjadi terfragmentasi dan tidak nyenyak. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, produktivitas kerja, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Apa Itu Nokturia? 

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang penyebab dan solusinya, penting bagi kamu untuk memahami apa sebenarnya nokturia itu. Nokturia, atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai nocturnal polyuria, adalah kondisi ketika seseorang mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil secara signifikan di malam hari, khususnya saat sedang tidur.

Normalnya, seseorang dapat tidur nyenyak selama enam hingga delapan jam tanpa terganggu oleh kebutuhan untuk buang air kecil. Namun, jika kamu harus terbangun dua kali atau lebih dalam satu malam untuk buang air kecil, ini sudah dapat diklasifikasikan sebagai nokturia.

Penting untuk diketahui bahwa nokturia sering kali dikaitkan dengan poliuria, yang merupakan kondisi produksi urine berlebih yang dapat mencapai lebih dari 3-5 liter per hari. Akan tetapi, kedua kondisi ini sebenarnya berbeda. Poliuria adalah produksi urine berlebih, sementara nokturia adalah peningkatan frekuensi buang air kecil yang secara khusus hanya terjadi pada malam hari saja. Dalam beberapa kasus, poliuria nokturnal dapat terjadi ketika produksi urine yang berlebihan hanya terjadi pada malam hari, sementara produksi pada siang hari tetap normal atau bahkan berkurang.

Nokturia bukanlah penyakit, melainkan lebih merupakan gejala dari suatu kondisi kesehatan yang mendasar atau sekadar respons tubuh terhadap perubahan gaya hidup dan kebiasaan harian.

11 Penyebab Sering Buang Air Kecil di Malam Hari yang Perlu Kamu Ketahui




Untuk dapat mengatasi nokturia dengan efektif, kamu perlu memahami apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Ada berbagai faktor yang dapat memicu kebiasaan sering buang air kecil di malam hari, mulai dari yang relatif sederhana hingga masalah kesehatan yang lebih serius. Berikut ini adalah penjelasan detail tentang berbagai penyebab utama nokturia:

1. Diabetes Mellitus (Penyakit Gula Darah)

Salah satu penyebab paling umum dari sering buang air kecil di malam hari adalah diabetes mellitus, baik tipe 1 maupun tipe 2. Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia, dengan jumlah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Mekanisme yang terjadi adalah sebagai berikut: ketika kadar gula darah kamu terlalu tinggi (hiperglikemia), ginjal tidak mampu menyerap semua kelebihan glukosa tersebut. Kelebihan gula dalam tubuh ini akan dikeluarkan melalui urine, namun gula juga memiliki sifat higroskopis, artinya gula menarik air ke dalam urine. Oleh karena itu, produksi urine meningkat secara signifikan, yang mengakibatkan kamu sering kali perlu buang air kecil, termasuk di malam hari. Gejala yang khas dari penderita diabetes yang mengalami poliuria adalah adanya kombinasi dengan polidipsia (rasa haus yang berlebih) dan polifagia (rasa lapar yang berlebih).

Jika kamu mengalami sering buang air kecil di malam hari yang disertai dengan rasa haus yang tidak tertahankan dan sering merasa lapar, ini bisa menjadi tanda awal diabetes dan perlu pemeriksaan lebih lanjut.

2. Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Sistitis

Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri abnormal dalam sistem perkemihan juga merupakan penyebab umum lainnya dari nokturia. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan pada kandung kemih (sistitis) dan area sekitarnya, sehingga menimbulkan berbagai gejala yang tidak nyaman.

Penderita ISK tidak hanya mengalami sering buang air kecil, tetapi juga disertai dengan gejala tambahan seperti rasa nyeri dan sensasi terbakar saat buang air kecil (disuria), urine yang tampak lebih gelap atau bahkan mengandung darah (hematuria), demam, dan rasa nyeri di area perut bagian bawah. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, namun wanita memiliki risiko lebih tinggi karena anatomis saluran kemih mereka yang lebih pendek. Jika ISK tidak diobati dengan tepat, dapat berubah menjadi infeksi yang lebih serius seperti infeksi ginjal (pielonefritis).

3. Sleep Apnea (Gangguan Pernapasan saat Tidur)

Sleep apnea, terutama tipe obstruksi (OSA), adalah gangguan tidur serius yang menyebabkan pernapasan terhenti sebentar-sebentar selama tidur. Kondisi ini memiliki hubungan yang menarik dengan nokturia.

Ketika seseorang mengalami episode apnea, kadar oksigen dalam darah menurun. Untuk merespons kondisi ini, otot jantung akan bekerja lebih keras untuk memompa darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh. Usaha ekstra ini menyebabkan pelepasan hormon atrial natriuretic peptide (ANP) atau hormon atria natriuretice peptide. Hormon ini memiliki fungsi untuk meningkatkan produksi urine secara signifikan, sehingga kamu akan mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil di malam hari.

4. Gagal Jantung Kongestif (Lemah Jantung)

Kondisi jantung yang tidak mampu memompa darah secara efektif juga dapat menjadi penyebab lain dari nokturia.

Mekanisme yang terjadi adalah sebagai berikut: Pada siang hari, ketika kamu berdiri atau beraktivitas, cairan cenderung menumpuk di bagian kaki dan ekstremitas bawah akibat adanya gravitasi dan ketidakmampuan jantung untuk memompa secara normal. Ketika kamu berbaring di malam hari untuk tidur, posisi horizontal ini menyebabkan cairan yang sebelumnya terkumpul di kaki kembali masuk ke dalam aliran darah. Ginjal kemudian menyaring cairan ini dan mengubahnya menjadi urine, sehingga produksi urine meningkat drastis selama malam hari.

5. Pembesaran Prostat atau Hiperplasia Prostat Jinak (BPH) pada Pria

Pembesaran prostat, terutama pada pria berusia lanjut, adalah penyebab sangat umum dari nokturia pada populasi laki-laki. Kelenjar prostat yang membesar akan menekan uretra (saluran tempat keluarnya urine), sehingga mengganggu aliran urine dan membuat kandung kemih tidak dapat dikosongkan sepenuhnya.

Akibatnya, kandung kemih akan terisi kembali dengan cepat dan menimbulkan dorongan untuk buang air kecil yang lebih sering, termasuk di malam hari. Kondisi ini umumnya terjadi pada pria di atas usia 50 tahun, dan prevalensinya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

6. Kandung Kemih Overaktif (Overactive Bladder/OAB)

Kandung kemih yang terlalu sensitif atau hiperaktif akan mengalami kontraksi otot yang tidak disadari (involunter) meskipun belum terisi penuh dengan urine. Kondisi ini menyebabkan seseorang merasakan dorongan kuat untuk buang air kecil dengan frekuensi yang sangat tinggi, bahkan ketika kandung kemih baru saja dikosongkan.

OAB dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk ketidakmampuan kandung kemih untuk menampung volume urine yang normal, gangguan pada saraf yang mengontrol kandung kemih, serta faktor-faktor lain yang masih terus dipelajari. Kondisi ini tidak terbatas pada usia tertentu dan dapat dialami oleh siapa saja, meskipun prevalensinya meningkat pada usia lanjut. Riset di 6 rumah sakit pendidikan di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi OAB basah mencapai 4,1% pada populasi umum dan meningkat menjadi 22,2% pada populasi usia lanjut.

7. Obat-Obatan Diuretik dan Antidepresan

Beberapa jenis obat-obatan tertentu memiliki efek samping yang menyebabkan peningkatan produksi urine. Obat-obatan ini dikenal sebagai diuretik atau "pil air". Obat-obatan antihipertensi (tekanan darah tinggi) seperti diuretik loop dan thiazide, serta beberapa jenis antidepresan, secara aktif meningkatkan kadar air dan garam dalam tubuh, sehingga volume urine meningkat secara signifikan.

Jika kamu baru saja memulai pengobatan untuk penyakit tertentu dan mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama di malam hari, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin akan meresepkan obat diuretik untuk dikonsumsi pada pagi hari atau setidaknya enam jam sebelum tidur, sehingga efek diuretik sudah hilang saat kamu akan tidur.

8. Konsumsi Kafein, Alkohol, dan Minuman Bergula

Gaya hidup kita, khususnya pola minum, memiliki pengaruh besar terhadap frekuensi buang air kecil. Kafein dan alkohol sama-sama memiliki efek diuretik alami pada tubuh. Kafein, yang terdapat dalam kopi, teh, minuman bersoda, dan cokelat, bekerja dengan menghambat reabsorpsi air dalam tubuh dan meningkatkan produksi urine. Alkohol juga memiliki efek serupa dengan menghambat pelepasan antidiuretic hormone (ADH) yang bertugas mengontrol reabsorpsi air di tubuh.

Jika kamu mengonsumsi kopi, teh, atau minuman beralkohol pada sore atau malam hari, produksi urine akan meningkat menjelang waktu tidur, sehingga menyebabkan nokturia. Untuk mengatasi hal ini, disarankan untuk menghindari atau membatasi konsumsi kafein dan alkohol minimal dua hingga tiga jam sebelum tidur.

9. Konsumsi Cairan Berlebih di Malam Hari

Hal yang paling sederhana namun sering terlupakan adalah terlalu banyak minum, terutama air putih, teh, atau minuman lainnya pada malam hari. Ketika kamu mengonsumsi terlalu banyak cairan dalam jangka waktu singkat sebelum tidur, ginjal akan bekerja lembur untuk memproses dan mengeluarkan kelebihan cairan tersebut melalui urine.

Meskipun minum air putih sangat penting untuk kesehatan tubuh, kamu perlu mengatur waktu minum dengan bijak. Disarankan untuk fokus memenuhi kebutuhan cairan di siang hari dan membatasi asupan cairan mulai dari dua hingga tiga jam sebelum tidur, sehingga produksi urine menurun dan kamu dapat tidur tanpa terganggu rasa ingin buang air kecil.

10. Penyakit Saraf Pusat: Stroke, Parkinson, dan Multiple Sclerosis

Berbagai penyakit yang mempengaruhi sistem saraf pusat juga dapat mengganggu sinyal-sinyal saraf yang mengontrol fungsi kandung kemih. Penyakit seperti stroke, Parkinson's diseasemultiple sclerosis, dan gangguan lain pada sumsum tulang belakang dapat menyebabkan otak sulit mengontrol kandung kemih dengan sempurna.

Hasilnya, kandung kemih tidak mampu menahan urine dengan baik, dan kamu akan mengalami frekuensi buang air kecil yang meningkat, termasuk pada malam hari. Gangguan ini memerlukan penanganan khusus dan konsultasi dengan dokter spesialis neurologi.

11. Kehamilan

Pada wanita hamil, sering buang air kecil, terutama di malam hari, adalah fenomena yang sangat umum dan wajar terjadi. Penyebab utamanya adalah rahim yang terus berkembang memberikan tekanan langsung pada kandung kemih, sehingga kandung kemih menjadi terasa penuh lebih cepat daripada biasanya.

Selain itu, perubahan hormon selama kehamilan juga berperan dalam meningkatkan frekuensi buang air kecil. Gejala ini biasanya paling terasa pada trimester pertama dan ketiga kehamilan, sementara pada trimester kedua intensitasnya mungkin akan sedikit berkurang. Hal ini adalah bagian normal dari proses kehamilan dan biasanya akan kembali normal setelah persalinan.

Gejala Nokturia yang Perlu Kamu Waspadai

Memahami gejala nokturia sangat penting agar kamu dapat mengenali kapan kondisi ini telah menjadi masalah yang memerlukan perhatian medis. Berikut adalah gejala-gejala utama yang biasanya dialami penderita nokturia:

Gejala Primer:

  • Terbangun lebih dari sekali di malam hari (minimal 2 kali atau lebih) dengan kebutuhan mendesak untuk buang air kecil
  • Produksi urine yang meningkat pada malam hari
  • Volume urine yang sedikit setiap kali buang air kecil, namun frekuensinya tinggi

Gejala Sekunder (Akibat dari Kurang Tidur):

  • Kelelahan dan kantuk yang persisten, bahkan setelah bangun tidur
  • Sulit berkonsentrasi dan menurunnya daya ingat
  • Perubahan suasana hati (mood) yang cenderung negatif, mudah marah, atau depresi
  • Penurunan motivasi dan produktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari
  • Meningkatnya rasa kantuk di siang hari yang mengganggu produktivitas kerja

Jika nokturia disebabkan oleh penyakit tertentu, kamu mungkin juga akan mengalami gejala-gejala tambahan yang spesifik sesuai dengan penyakit penyebabnya. Misalnya, jika disebabkan oleh ISK, kamu akan merasakan nyeri saat buang air kecil, atau jika disebabkan oleh diabetes, kamu akan merasakan haus yang berlebih.

Dampak Nokturia terhadap Kesehatan dan Kualitas Hidup

Kamu mungkin berpikir bahwa sering buang air kecil di malam hari adalah hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa nokturia yang tidak ditangani dengan baik dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak terhadap Kualitas Tidur: Nokturia menyebabkan tidur malammu menjadi terfragmentasi dan tidak nyenyak. Setiap kali kamu terbangun untuk buang air kecil, siklus tidur kamu akan terputus, dan sulit untuk kembali tertidur. Riset menunjukkan bahwa 64% pasien dengan nokturia sedang hingga berat mengalami kualitas tidur yang buruk.

Dampak terhadap Kesehatan Mental: Kurang tidur kronis akibat nokturia dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan perubahan mood yang drastis. Penelitian juga menunjukkan bahwa OAB yang disertai nokturia turut meningkatkan risiko depresi pada pasien.

Dampak terhadap Produktivitas: Kelelahan akibat kurang tidur akan mengurangi konsentrasi dan kemampuan kognitif seseorang, sehingga produktivitas kerja ikut menurun secara signifikan. Kamu akan lebih mudah lelah, mudah lupa, dan sulit membuat keputusan dengan tepat.

Risiko Cedera Fisik: Pada populasi usia lanjut, nokturia meningkatkan risiko jatuh atau terpeleset saat bangun di malam hari untuk ke toilet. Penelitian menunjukkan bahwa OAB dengan nokturia pada lansia berhubungan dengan peningkatan risiko fraktur panggul akibat jatuh.

Dampak terhadap Fungsi Imun: Kurang tidur kronis dapat melemahkan sistem imun tubuh, dan membuat kamu lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.

Cara Mengatasi Nokturia

Ada beberapa strategi perubahan gaya hidup yang terbukti efektif dalam mengatasi nokturia. Pendekatan ini dapat dilakukan sendiri tanpa konsultasi medis terlebih dahulu dan aman untuk hampir semua orang:

1. Batasi Asupan Cairan di Malam Hari

Salah satu cara paling mudah dan efektif untuk mengurangi nokturia adalah dengan membatasi konsumsi cairan menjelang waktu tidur. Daripada minum banyak air pada sore atau malam hari, fokuskan untuk memenuhi kebutuhan cairan kamu di siang hari.

Kebiasaan yang bisa mulai kamu lakukan:

  • Mulai dari dua hingga tiga jam sebelum tidur, kurangi asupan cairan secara bertahap
  • Jika merasa haus, hanya ambil tegukan air dalam jumlah kecil, cukup untuk menghilangkan rasa haus tanpa perlu banyak minum
  • Konsumsi sebagian besar kebutuhan cairan harian kamu antara pukul 08:00 hingga 16:00
  • Hindari minum secara berlebihan saat makan malam

2. Hindari Kafein dan Alkohol di Sore/Malam Hari

Kafein dan alkohol memiliki efek diuretik yang kuat. Untuk mengurangi frekuensi buang air kecil di malam hari, hindari atau batasi konsumsi kopi, teh, minuman bersoda, dan minuman beralkohol mulai dari pukul 14:00 atau 15:00 sore hingga waktu tidur kamu.

Alternatif yang dapat kamu coba:

  • Ganti kopi dengan air putih atau teh herbal tanpa kafein
  • Jika ingin minum kafein, lakukan pada siang hari dan hindari untuk mengonsumsinya sebelum tidur
  • Batasi konsumsi cokelat di malam hari, karena cokelat juga mengandung kafein dalam jumlah tertentu

3. Biasakan Buang Air Kecil Sebelum Tidur

Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengosongkan kandung kemih sepenuhnya sebelum kamu tidur, sehingga dapat mengurangi kemungkinan terbangun di tengah malam untuk pergi ke toilet.

Caranya:

  • Sekitar 30 menit sebelum tidur, pergi ke toilet dan kosongkan kandung kemih sepenuhnya
  • Pastikan kamu benar-benar mengosongkan kandung kemih, tidak hanya parsial
  • Ini akan memastikan bahwa pada saat kamu tidur, kandung kemih dalam kondisi kosong

4. Angkat Kaki Sebelum Tidur

Jika kamu mengalami pembengkakan pada kaki atau edema, strategi ini sangat efektif. Dengan mengangkat kaki lebih tinggi daripada jantung selama 30 hingga 60 menit sebelum tidur, kamu membantu cairan yang terkumpul di kaki untuk kembali ke sirkulasi tubuh.

Teknik yang tepat:

  • Berbaring di tempat tidur dan letakkan beberapa bantal di bawah kaki kamu
  • Angkat kaki sedemikian rupa sehingga kaki lebih tinggi dari jantung (sudut sekitar 30-45 derajat)
  • Lakukan ini selama 30-60 menit sebelum tidur
  • Cairan ini kemudian akan diproses oleh ginjal dan dikeluarkan melalui urine sebelum tidur, bukan saat malam hari

5. Gunakan Stoking Kompresi Medis atau Kaus Kaki Ketat Saat Tidur

Meskipun terkesan sederhana, strategi ini sebenarnya sangat membantu. Stoking kompresi medis atau kaus kaki yang cukup ketat dapat membantu mencegah penumpukan cairan pada kaki.

Cara kerjanya:

  • Saat kamu tidur dalam posisi horizontal, gaya gravitasi membuat cairan tubuh bergerak turun dan menumpuk di bagian kaki
  • Tekanan dari stoking kompresi membantu mencegah penyerapan cairan berlebih ke dalam jaringan kaki
  • Ini mengurangi kebutuhan ginjal untuk mengeluarkan cairan berlebih melalui urine pada malam hari

6. Batasi Asupan Garam 

Garam memiliki sifat menarik air, sehingga konsumsi garam berlebih akan meningkatkan retensi cairan di tubuh. Sebuah penelitian dari Nagasaki University pada 2017 menemukan bahwa mengurangi asupan garam dapat membantu mengurangi keinginan kencing di malam hari dan membuat tidur jadi jauh lebih nyenyak.

Tips:

  • Hindari makanan yang mengandung garam tinggi seperti makanan olahan, gorengan, dan makanan siap saji
  • Gunakan bumbu alternatif seperti lemon, jahe, atau rempah lainnya untuk menambah rasa pada makanan
  • Batasi konsumsi garam maksimal 5-6 gram per hari

7. Jaga Pola Makan dan Berat Badan Ideal

Obesitas atau berat badan berlebih dapat meningkatkan tekanan pada kandung kemih dan memperburuk gejala nokturia. Dengan mempertahankan berat badan ideal melalui pola makan sehat dan olahraga teratur, kamu dapat mengurangi tekanan pada kandung kemih.

Rekomendasi nutrisi:

  • Kurangi makanan berlemak, tinggi kalori, dan makanan cepat saji
  • Perbanyak konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian utuh
  • Hindari makan terlalu banyak pada malam hari; cukup makan ringan untuk menjaga metabolisme

8. Lakukan Senam Kegel Secara Teratur

Senam Kegel adalah latihan yang dirancang untuk memperkuat otot-otot dasar panggul yang mengontrol aliran urine. Latihan ini sangat bermanfaat, terutama bagi mereka yang mengalami overactive bladder.

Cara melakukan Senam Kegel:

  • Identifikasi otot dasar panggul dengan cara menghentikan aliran urine saat sedang buang air kecil
  • Kencangkan otot ini selama 3-5 detik, kemudian relax-kan
  • Mulai dengan 10 pengulangan, tiga kali sehari
  • Secara bertahap tingkatkan durasi kencangan menjadi 10 detik dan jumlah pengulangan menjadi 20 kali
  • Lakukan latihan ini secara konsisten setidaknya selama 4-6 minggu untuk melihat hasil yang signifikan

9. Terapkan Terapi Bladder Training (Latihan Kandung Kemih)

Bladder training adalah teknik terapi perilaku yang membantu kamu melatih kandung kemih untuk menahan urine lebih lama. Metode ini terbukti efektif untuk mengurangi frekuensi buang air kecil dan sangat berguna bagi mereka dengan overactive bladder.

Langkah-langkah bladder training:

  1. Catat kapan dan berapa kali kamu buang air kecil dalam satu hari selama tiga hari untuk menentukan pola dasar 

  2. Mulai dengan interval waktu yang kecil (misalnya setiap jam sekali) dan secara bertahap tingkatkan interval ini

  3. Ketika kamu merasakan dorongan untuk buang air kecil sebelum waktu yang dijadwalkan, coba tahan dengan:

    • Mengambil napas dalam-dalam perlahan

    • Melakukan relaksasi otot tubuh

    • Duduk sejenak sambil berkonsentrasi

  4. Jika benar-benar tidak bisa menahan, tunggu lima menit sebelum pergi ke toilet

  5. Setelah itu, kembali mengikuti jadwal yang telah ditentukan

  6. Secara bertahap, panjang interval akan meningkat, dan frekuensi buang air kecil akan berkurang

10. Pertahankan Rutinitas Tidur yang Konsisten

Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, bahkan pada akhir pekan, membantu mengatur ritme sirkadian tubuh dan meningkatkan kualitas tidur secara keseluruhan.

Tips untuk tidur yang lebih baik:

  • Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari
  • Hindari tidur siang, terutama pada sore hari
  • Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman: kamar yang gelap, sunyi, dan bersuhu sejuk (18-22°C ideal)
  • Hindari aktivitas seperti menonton tv atau bermain gadget setidaknya satu jam sebelum tidur

11. Kelola Stres dan Kecemasan

Stres dan kecemasan dapat memperburuk gangguan buang air kecil dan mengganggu kualitas tidur. Teknik relaksasi dan manajemen stres dapat membantu mengurangi gejala nokturia.

Teknik manajemen stres:

  • Meditasi atau mindfulness selama 10-15 menit setiap hari
  • Yoga atau tai chi untuk relaksasi tubuh
  • Olahraga teratur namun tidak terlalu dekat dengan waktu tidur
  • Teknik pernapasan dalam untuk menenangkan sistem saraf

Kapan Harus ke Dokter?

Jika perubahan gaya hidup tidak memberikan hasil yang signifikan dalam 4-6 minggu, atau jika gejala semakin memburuk, kamu perlu berkonsultasi dengan dokter, khususnya dokter spesialis urologi.

Pemeriksaan Medis yang Mungkin Dilakukan:

Untuk mendiagnosis penyebab nokturia, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berikut:

1. Anamnesis (Wawancara Medis Rinci)

  • Riwayat kesehatan pribadi dan keluarga
  • Kapan gejala pertama kali muncul
  • Pola buang air kecil siang dan malam
  • Obat-obatan yang sedang dikonsumsi

2. Membuat Voiding Diary

Dokter akan meminta kamu membuat catatan detail tentang:

  • Waktu dan frekuensi buang air kecil (siang dan malam)
  • Volume urine yang dikeluarkan
  • Waktu dan jumlah asupan cairan
  • Gejala yang terjadi

Catatan ini sangat penting untuk membantu dokter mengidentifikasi pola spesifik dan penyebab yang mendasar.

3. Pemeriksaan Fisik

  • Pemeriksaan area perut untuk mendeteksi kemungkinan kandung kemih yang penuh
  • Pemeriksaan area genital
  • Pencarian tanda-tanda edema atau pembengkakan pada kaki

4. Tes Urine (Urinalisis)

Sampel urine akan diperiksa di laboratorium untuk mencari:

  • Keberadaan bakteri atau sel darah putih (tanda infeksi)
  • Keberadaan glukosa (tanda diabetes)
  • Protein atau darah dalam urine

5. Pemeriksaan Darah

Darah akan diambil untuk memeriksa:

  • Kadar gula darah (untuk mendeteksi diabetes)
  • Fungsi ginjal
  • Kadar elektrolit

6. Ultrasonografi Kandung Kemih

Pemeriksaan ultrasound atau USG dapat menunjukkan:

  • Volume urine yang tersisa di kandung kemih setelah buang air kecil
  • Ukuran dan bentuk kandung kemih
  • Kemungkinan batu atau tumor

Pilihan Pengobatan Medis:

1. Terapi Desmopressin

Desmopressin adalah hormon sintetis yang mampu mengurangi produksi urine di malam hari. Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk seperti: tablet, semprot hidung, atau tablet hisap yang dikonsumsi sebelum tidur. Namun, penggunaan obat ini harus di bawah pengawasan ketat dokter karena ada risiko efek samping.

2. Obat Antikolinergik

Obat-obat seperti fesoterodineoxybutyninmirabegronpropiverinesolifenacin, dan tolterodine dapat digunakan untuk mengurangi kontraksi abnormal otot kandung kemih pada kasus OAB. Obat ini membantu mengurangi frekuensi dan urgensi untuk kencing.

3. Alpha Blocker

Untuk pria dengan pembesaran prostat (benign prostatic hyperplasia/BPH), alpha blocker seperti doxazosinterazosin, dan tamsulosin dapat membantu mengendurkan otot prostat dan memfasilitasi aliran urine yang lebih baik.

4. Inhibitor 5-Alpha Reductase

Obat ini digunakan untuk mengurangi ukuran prostat pada BPH, sehingga mengurangi tekanan pada uretra dan memperbaiki gejala nokturia.

5. Prosedur Urologi atau Operasi

Untuk kasus yang disebabkan oleh gangguan struktural seperti pembesaran prostat yang sangat berat, obstruksi kandung kemih, atau kelainan saluran kemih, mungkin diperlukan tindakan medis seperti:

  • TURP (Transurethral Resection of the Prostate) untuk pembesaran prostat
  • Operasi untuk mengatasi obstruksi kandung kemih
  • Prosedur minimal invasif lainnya sesuai indikasi

6. Pengobatan Penyakit Penyerta

Sangat penting untuk mengobati penyakit yang mendasari penyebab nokturia, seperti:

  • Diabetes mellitus dengan antidiabetik yang tepat
  • Sleep apnea dengan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) atau terapi tidur lainnya
  • Gagal jantung dengan diuretik dan terapi jantung lainnya
  • Infeksi saluran kemih dengan antibiotik yang sesuai

Kapan Harus Segera Konsultasi ke Dokter:

Kamu perlu mencari perhatian medis segera jika mengalami:

  • Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
  • Darah dalam urine (hematuria)
  • Demam yang disertai gangguan buang air kecil
  • Tidak dapat buang air kecil sama sekali (retensi urine)
  • Nokturia yang tiba-tiba muncul pada anak-anak
  • Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas
  • Nokturia yang disertai dengan gejala serius lainnya

Cara Mencegah Nokturia

Meskipun tidak semua kasus nokturia dapat dicegah (terutama yang disebabkan oleh penyakit tertentu), ada banyak langkah preventif yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi risiko terjadinya kondisi ini, seperti:

  • Olahraga Teratur: Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit, lima kali seminggu, namun hindari olahraga yang intens mendekati waktu tidur
  • Jaga Kebersihan Area Genital: Rajin mencuci area genital untuk mencegah infeksi saluran kemih
  • Hindari Minuman Berlebih pada Malam Hari: Minum secukupnya dan fokus memenuhi kebutuhan cairan pada siang hari
  • Pertahankan Berat Badan Ideal: Jika kamu kelebihan berat badan, usahakan untuk menurunkan berat badan secara bertahap
  • Tidur dengan Jadwal Teratur: Konsistensi waktu tidur dan bangun akan membantu mengatur ritme tubuh
  • Mengelola Diabetes dan Tekanan Darah: Jika kamu penderita diabetes atau hipertensi, pastikan kondisi ini terkontrol dengan baik
  • Batasi Konsumsi Obat Diuretik pada Malam Hari: Jika kamu harus mengonsumsi obat diuretik, lakukan pada pagi hari atau minimal enam jam sebelum tidur
  • Hindari Merokok: Merokok dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk yang berhubungan dengan saluran kemih
  • Kelola Stres dengan Baik: Praktikkan teknik relaksasi dan manajemen stres untuk menjaga kesehatan mental

Sering buang air kecil di malam hari atau nokturia adalah kondisi yang umum terjadi namun sering kali diabaikan. Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak signifikan pada kualitas tidur, kesehatan mental, produktivitas, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. 

Langkah pertama yang dapat kamu lakukan adalah dengan melakukan perubahan gaya hidup sederhana seperti membatasi asupan cairan dan kafein di malam hari, menghindari alkohol sebelum tidur, dan mempertahankan berat badan ideal. Jika langkah-langkah ini tidak memberikan hasil yang memuaskan setelah beberapa minggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan medis yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Ingat, setiap orang memiliki penyebab nokturia yang berbeda-beda, sehingga penanganannya pun akan berbeda-beda pada tiap orang. Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, kamu dapat mengatasi nokturia dan kembali menikmati tidur yang nyenyak dan berkualitas, sehingga produktivitas dan kualitas hidupmu dapat kembali meningkat.

Comments
Responsive Ads
Responsive Ads
Responsive Ads
Additional JS